Selasa, 20 Oktober 2009

RAMADHAN, KENDARAAN MENUJU ALLAH*

RAMADHAN, KENDARAAN MENUJU ALLAH*
Oleh
Silviana Hendri**

Ba’da tahmid wa shalawat. Amma ba’d.
Saudaraku, sejenak mari kita labuhkan perhatian kita hanya pada Allah swt. Dialah Rabb yang senantiasa menganugerahi kita waktu dan kesempatan. Demikian, hingga detik ini kita masih dikutakan dalam keislaman, diberkahi umur untuk bertemu Ramadhan. Puji bagi-Mu, Rabb semesta alam. Yang telah mengajarkan kepada kami apa-apa yang kami ketahui. Memberikan balasan atas apa yang kammi lakukan. Mahasuci Engkau yang telah memilih kami untuk tetap istiqomah dalam islam.
Shalawat serta salam mari kita haturkan kepada Sang Guru Besar, Muhammad, Rasulullah saw. Beliau berjasa menyampaikan Risalah islam kepada manusia. Rasul yang sangat mencintai umatnya. Hingga di akhir hayat, ingatannya hanyalah, ”ummatiy... ummatiy... ummatiy....” Sungguh Rasul, Allah lah yang pantas membalas semua jasa dan kebaikanmu. Semoga Rasulullah, keluarganya, sahabat, salafussaleh, dan para pengikutnya yang ssetia diberikan rahmat oleh Allah swt.
Saudara seimanku, Ramadhan kembali menghampiri kita dengan penunh kemuliaanya. Rutinitas Ramadhan menjumpai kita. Jika Rasulullah menyambut bulan ini layaknya tamu istimewa, bagaimanakah dengan kita?
Kita telah berada di ambang hari-hari penuh maghfirah. Mungkin sudah telambat untuk menyadari bahwa ramadhan datang. Lantas kita baru mulai mempersiapkan diri untuk menyambut tamu agung ini. Mari instropeksi diri kita telah seberapa jauh kita telah menikmati bulan ini?
Namun, sebelumnya, mari kita ingat Ramadhan kali ini, Ramadhan ke berapa yang telah kita temui? Mungkin sudah tidak terhitung berapa kali kita bertemu dengan bulan Ramadhan dan menikmati indahnya beriabadah pada bulan itu. Ataukah 18, 19, 20, 21, ataukah lebih? Dari besarnya usia kita, berapa klaikah Ramadhan yang kita lalui bermakna? Karena substansinya bukanlah berapa kali kita menikmati Ramadhan melainkan seberapa maksimalkah kia memanfaatkan momentum ramadahan untuk melakukan proses perbaikan diri.
Rasulullah bersabda, ” Jika seandainya umatku tahu akan keutamaan Ramadhan maka niscaya mereka akan memohon kepada Allah agar setiap bulan adalah Ramadhan.”
Apakah keutamaan Ramadhan yang dimaksudkan Rasulullah?
Jika Bulan Ramadhan adalah Toko Besar, maka bulan ini mari kita namakan RAMADHAN BIG SALE. Ada OBRAL besar-besaran PAHALA yang tiada tertandingi. Ada DISKON DOSA hingga 90%. Maka, mari kita kumpulkan POIN AMAL. Dimana yang sunnah, bernilai sama dengan amalan wajib. Poin amal wajib dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Masih ada lagi bonus di akhir builan, yakni door prize Malam LAILATUL QODR, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Lalu, apa lagi yang kita nantikan?
Ramadhan adalah bulan tarbiyah bagi peningkatan kualitas pribadi kita. Pengharapan kepada Allah agar jiwa dan raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah. Kehidupan kita adalah perjalanan menuju Allah. Dalam sebuah perjalanan yang panjang, kita memerlukan sebuah kendaraan yang bisa mendekatkan kepada tujuan kita. Maka, inilah kendaraan kita, RAMADHAN.
Lantas, bagaimanakah sifat dari perjalanan itu? Salafussaleh melukiskan perjalanan itu sebagi perjalanan yang banyak ujian juga banyak tantangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Di gunung ada lereng-lereng yang curam, belukar yang hebat, perompak yang mengancam, iblis yang senantias merayu agar perjalanan kita tidak diteruskan. Bertambah tingginya gunung yang harus kita tempuh dan kita daki, maka akan lebih hebat ancaman dan tantangan yang harus kita lewati. Seraya lebih kuat rayuan yang harus kita tangguhkan dalam perjalanan itu.
Keputusan tetap ada pada kita. Akankah kita memilih berhenti di seperempat jalan ataupun sisepertiga jalan? Atau kita memilih untuk meneruskan perjalanan dengan tekad mengalahkan semua ujian itu? Lalu, kita akan mendapatkan kemenangan.
Sesungguhnya Ramadhan merupakan rihlah seorang muslim dari kehidupan materialis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan penuh masalah keduniaan menuju kehidupan tazkiyatunnafs.
Demikianlah saudaraku, perjalanan yang akan kita lewati memang penuh rintangan. Namun, berbuah manis dan kelezatan. Tidak seorang pun yang mampu keculai mereka yang perkasa, terpercaya, penuh waspada serta mawas diri, serius, tangkas, setia dan rela berkorban.
Apakah sebenarnya yang ingin kita capai? Sebuiah cita-cita untuk merealisasikan inti ajaran dan hikmah ramadhan, yaitu agar kita mencapai prediket takwa. Tidakkah merasa perlu kembali memperhatikan janji kita kepada Allah yang telah mendatangkan suatu pahala yang begitu besar?? Jika memang kita telah berazam, maka bertawakallah.
Wallahu alam bish shawab.
*menang lagi di LOMBA TAUJIH RAMADHAN HIMAPEFSI
Lagi-lagi tingkat kampus........
**Mhs universitas Riau Pend Fisika......(cocok g jadi penulis???)

2 komentar:

  1. "menang lagi di LOMBA TAUJIH RAMADHAN HIMAPEFSI"
    :THUMBS UP:
    Pantes koq jadi penulis.....
    n semoga bisa jadi penulis ternama yg karya'a masuk perpustakaan nasional deh...
    sukses selalu buat c "Jenius SMP Sejati" tp yg lbh pantas skrg c "Jenius Sejati" bukan cuma d SMP... he..he..

    BalasHapus
  2. Owh iya.... itu tgl posting'a 20 Oktober kmaren ea????
    koq telat tayang....???

    BalasHapus