RAMADHAN, KENDARAAN MENUJU ALLAH*
Oleh
Silviana Hendri**
Ba’da tahmid wa shalawat. Amma ba’d.
Saudaraku, sejenak mari kita labuhkan perhatian kita hanya pada Allah swt. Dialah Rabb yang senantiasa menganugerahi kita waktu dan kesempatan. Demikian, hingga detik ini kita masih dikutakan dalam keislaman, diberkahi umur untuk bertemu Ramadhan. Puji bagi-Mu, Rabb semesta alam. Yang telah mengajarkan kepada kami apa-apa yang kami ketahui. Memberikan balasan atas apa yang kammi lakukan. Mahasuci Engkau yang telah memilih kami untuk tetap istiqomah dalam islam.
Shalawat serta salam mari kita haturkan kepada Sang Guru Besar, Muhammad, Rasulullah saw. Beliau berjasa menyampaikan Risalah islam kepada manusia. Rasul yang sangat mencintai umatnya. Hingga di akhir hayat, ingatannya hanyalah, ”ummatiy... ummatiy... ummatiy....” Sungguh Rasul, Allah lah yang pantas membalas semua jasa dan kebaikanmu. Semoga Rasulullah, keluarganya, sahabat, salafussaleh, dan para pengikutnya yang ssetia diberikan rahmat oleh Allah swt.
Saudara seimanku, Ramadhan kembali menghampiri kita dengan penunh kemuliaanya. Rutinitas Ramadhan menjumpai kita. Jika Rasulullah menyambut bulan ini layaknya tamu istimewa, bagaimanakah dengan kita?
Kita telah berada di ambang hari-hari penuh maghfirah. Mungkin sudah telambat untuk menyadari bahwa ramadhan datang. Lantas kita baru mulai mempersiapkan diri untuk menyambut tamu agung ini. Mari instropeksi diri kita telah seberapa jauh kita telah menikmati bulan ini?
Namun, sebelumnya, mari kita ingat Ramadhan kali ini, Ramadhan ke berapa yang telah kita temui? Mungkin sudah tidak terhitung berapa kali kita bertemu dengan bulan Ramadhan dan menikmati indahnya beriabadah pada bulan itu. Ataukah 18, 19, 20, 21, ataukah lebih? Dari besarnya usia kita, berapa klaikah Ramadhan yang kita lalui bermakna? Karena substansinya bukanlah berapa kali kita menikmati Ramadhan melainkan seberapa maksimalkah kia memanfaatkan momentum ramadahan untuk melakukan proses perbaikan diri.
Rasulullah bersabda, ” Jika seandainya umatku tahu akan keutamaan Ramadhan maka niscaya mereka akan memohon kepada Allah agar setiap bulan adalah Ramadhan.”
Apakah keutamaan Ramadhan yang dimaksudkan Rasulullah?
Jika Bulan Ramadhan adalah Toko Besar, maka bulan ini mari kita namakan RAMADHAN BIG SALE. Ada OBRAL besar-besaran PAHALA yang tiada tertandingi. Ada DISKON DOSA hingga 90%. Maka, mari kita kumpulkan POIN AMAL. Dimana yang sunnah, bernilai sama dengan amalan wajib. Poin amal wajib dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Masih ada lagi bonus di akhir builan, yakni door prize Malam LAILATUL QODR, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Lalu, apa lagi yang kita nantikan?
Ramadhan adalah bulan tarbiyah bagi peningkatan kualitas pribadi kita. Pengharapan kepada Allah agar jiwa dan raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah. Kehidupan kita adalah perjalanan menuju Allah. Dalam sebuah perjalanan yang panjang, kita memerlukan sebuah kendaraan yang bisa mendekatkan kepada tujuan kita. Maka, inilah kendaraan kita, RAMADHAN.
Lantas, bagaimanakah sifat dari perjalanan itu? Salafussaleh melukiskan perjalanan itu sebagi perjalanan yang banyak ujian juga banyak tantangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Di gunung ada lereng-lereng yang curam, belukar yang hebat, perompak yang mengancam, iblis yang senantias merayu agar perjalanan kita tidak diteruskan. Bertambah tingginya gunung yang harus kita tempuh dan kita daki, maka akan lebih hebat ancaman dan tantangan yang harus kita lewati. Seraya lebih kuat rayuan yang harus kita tangguhkan dalam perjalanan itu.
Keputusan tetap ada pada kita. Akankah kita memilih berhenti di seperempat jalan ataupun sisepertiga jalan? Atau kita memilih untuk meneruskan perjalanan dengan tekad mengalahkan semua ujian itu? Lalu, kita akan mendapatkan kemenangan.
Sesungguhnya Ramadhan merupakan rihlah seorang muslim dari kehidupan materialis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan penuh masalah keduniaan menuju kehidupan tazkiyatunnafs.
Demikianlah saudaraku, perjalanan yang akan kita lewati memang penuh rintangan. Namun, berbuah manis dan kelezatan. Tidak seorang pun yang mampu keculai mereka yang perkasa, terpercaya, penuh waspada serta mawas diri, serius, tangkas, setia dan rela berkorban.
Apakah sebenarnya yang ingin kita capai? Sebuiah cita-cita untuk merealisasikan inti ajaran dan hikmah ramadhan, yaitu agar kita mencapai prediket takwa. Tidakkah merasa perlu kembali memperhatikan janji kita kepada Allah yang telah mendatangkan suatu pahala yang begitu besar?? Jika memang kita telah berazam, maka bertawakallah.
Wallahu alam bish shawab.
*menang lagi di LOMBA TAUJIH RAMADHAN HIMAPEFSI
Lagi-lagi tingkat kampus........
**Mhs universitas Riau Pend Fisika......(cocok g jadi penulis???)
Selasa, 20 Oktober 2009
ongkos pulang
ONGKOS PULANG**
Silviana Hendri*
Sekolah baru saja usai. Ko, berlari ke luar gerbang sekolah. Kencang sekali. Tak ada siapaun yang ditunggunya. Tidak seperti siswa lain yang menunggu jemputan pulang orang tuanya.
Ia terus berlari hingga berhenti sejenak untuk meyebrang jalan. Di seberang sana ada sebuah pohon besar. Di dekat taman. Ko melepaskan tas yang sedari tadi menempel di punggungnya. Mengeluarkan baju kaos kumal. Kemudian melepaskan seragam sekolahnya dan berganti dengan kaos kumal itu. Ia masukkan kembali baju seragamnya. Kemudian kembali berlari menuju agen penjualan koran.
Hari menunjukkan kegarangannya. di persimpangan jalan, ko telah membentuk sebuah komunitas dengan para penjual koran lainnya. Lampu merah menyala. Ko dan teman-temannya mulai beraksi.
”Koran... koran....,” teriaknya di bawah sengatan matahari. Menghampiri setiap pengguna jalan raya.
***
Malam yang pekat.
Ko tinggal bertiga dengan ibu dan adiknya. Ayahnya belum pulang sejak sore kemarin. Entah kemana. Ibu ko pun tidak tahu keberadaan suaminya.
Suasana di luar penuh gemuruh lompatan petir. Kilatnya tampak jelas dari balik dinding kayu rumah Ko. Hujan mengguyur bumi bagai membalas dendam. Seketika jalanan banjir. Inilah ganjaran untuk manusia yang menebang pohon sewenang-wenang. Riuh sautan katak menambah ramai suasana malam.
Ko dan ibunya masih menunggu kepulangan ayah. Sementara adik ko sedari tadi telah lelap dalam pangkuan ibu.
”Dimana ayah, Bu?” Ko memecahkan keheningan yang tercipta diantara mereka.
Lamunan ibu ke luar rumah seketika buyar akibat pertanyaan Ko. Tetapi, bibir ibu tetap terkunci. Hanya sorot mata hampa yang menjadi jawaban pertanyaan itu.
Ko lebih mendekat kepada ibunya. Merangkul ibunya dan mencari kehangatan.
***
Seorang pria baya menikmati kesyahduannya di teleju. Di sebuah bilik sempit dengan pendar lampu remang-remang. Ia tengah bersama seorang wanita penghuni teleju itu. Sebelumnya ia telah menghabiskan tiga botol wiski. Berfoya dengan teman-temannya dalam llingkaran judi.
Lelaki itu dengan segurat masalah yang terlukis di keningnya berupaya menutup-nutupi dengan ketawa membahana. Malam ini ia tengah menang. Ia bisa menghabiskan uang itu untuk apa saja. Bahkan ia yang mentraktir para konco-konco yang berada dalam lingkaran itu sampai mabuk. Ia hanya mengaharapkan kesenangan.
***
Ko, berniat untuk menghabiskan semua koran yang ada di tangannya. Ia berpindah dari pengendara satu ke pengenadara lainnya. Meski sengatan matahari telah membakar kulitnya dan menambahkan rasa haus di tenggorokkannya, korannya harus habis terjual.
Lampu hijau kembali menyala. Ko dan komunitasnya menjauh dari badan jalan. Menuju suatu tempat teduh di bawah jembatan penyebrangan. Ia tersenyum melihat pemandangan di sekitarnya. Teman-teman komunitasnya dengan santai menuangkan minuman segar dalam mulut mereka. Padahal hari ini masih dalam bulan puasa. Terkadang hati ko mulai goyah. Ia menghitung uang yang telah ia kumpulkan. Lalu tersenyum. ’aku harus mengumpulkannya untuk menyusul ibu.” ia kemas kembali uang dalam dompet plastiknya.
”Kau mau?” seseorang menyodorkan segelas air mineral kepada Ko.
Ko menatap orang itu. Kemudian menggeleng.
”Ambillah. Kau pasti haus,” paksa lelaki tua yang kepalanya telah dipenuhi uban.
”Aku puasa,” ujar Ko. Meski sedikit menyesal menolak pemberian orang tua itu, tapi Ko harus kokoh dengan pesan ibunya.
”Hebat! Meski kecil imanmu cukup juga untuk diadu.”
Ko tersenyum.
”Entah kapan aku ikut puasa terakhir kalinya,” laki-laki itu mulai cerita. Ia menyeruput minuman ke tenggorokkannya. ”Dulu, aku rajin shalat juga puasa. Tapi, ah, sekarang aku bahkan lupa cara melakukannya.”
Ko kembali tersenyum.
”Siapa namamu? Sepertinya kau orang baru,” tanya laki-laki tua itu.
”Panggil saja aku Ko”
”Masih sekolah?” tanya laki-laki itu melirik pakaian bawah Ko.
Ko hanya mengangguk.
”Lantas bagaimana ceritanya kau menjadi loper koran?”
”Aku ingin mengumpulkan uang untuk menyusul ibuku. Ia pergi diusir ayah.”
”Lalu ayahmu?”
Ko menebarkan senyum miris. ”Ia mengahbiskan waktu di meja judi.”
”Oy, namaku We. Cukup panggil aku We saja. Jika kau memerlukan bantuan, boleh datang kepadaku. Aku akan membantu semampuku.”
“Terimakasih.”
Lampu merah kembali menyala. Aktivitas para penjual Koran menyebar ke setiap pengguna jalan.
***
Hujan kian deras. Menyajikan suasana lebih mencekam seiring dengan turunnya malam yang sempurna. Petir sambut-menyambut di luar sana. Katak semakin gencar dengan kegirangannya menyambut hujan.
Ko dan Ibu tersentak dengan bantingan pintu dari luar rumah. Begitu kuat dan begitu cepat. Setelah meletakkan adik ko ke atas dipan beralaskan tikar, ibu mengajak Ko untuk membuka pintu.
Kilat menyambar. Bumi merekah. Duarrrrr. Sesosok bayangan tengah berdiri gontai di depan pintu. Ia limbung. Ko dan ibunya memapah lelaki itu. Ada aroma menyengat yang tidak mengenakkan tercium oleh hidung ko. Ia mual. Lelaki itu berat sekali. Ko dan ibunya hampir jatuh memapah lelaki setengah sadar itu.
Seperti hari-hari biasa. Ko berangkat ke sekolah pagi-pagi setelah sarapan dengan masakan buatan ibunya. Hari ini hari terakhir sekolah. Esok hingga tiga hari berikutnya sekolah diliburkan karena menyambut bulan puasa.
Hanya gotong royong. Ko pulang lebih awal dari biasanya. Ia menerobos rumah setelah mengucapkan salam. Tapi, tidak ada satu suara pun yang menjawab. Ia berpikir ibu dan adiknya tengah tidur. Ayahnya jarang di rumah, ia tidak perlu memikirkan ayahnya.
Ko menggeleda ruang depan dan ruang dapur. Ia sapu bersih denagn penglihatannya. Tak ia dapati satu pun manusia. Tidak adik dan ibunya. Ko panik. Ia langsung berlari ke tuang depan lagi. Menatap apapun yang mungkin menjadi isyarat atau jawaban atas kejadian ini. Selembar kertas. Itu tulisan ibunya.
Ibu terpaksa pergi. Ke rumah nenekmu di Jawa. Maaf tidak membawamu, Nak. Suatu saat kita pasti akan bertemu. Rajin-rajinlah sembahyang. Jangan kau tinggalkan perintah yang Kuasa. Senantiasa berdoa agar kita dipertemukan oleh-Nya. Puasa ini kau harus penuh.
Pesan ibu jangan kau benci ayahmu. Tetaplah jadi anak baik. Jaga diri baik-baik sayang.
Peluk cium
Ibu
Dunia serasa hampa bagi Ko. Ia seperti tidak memiliki tujuan hidup.
***
Sejak kejadian hari itu, Ko tinggal sendiri di rumah. Ayahnya tidak pernah lagi pulang ke rumah. Rumah selalu sepi karena Ko pagi-pagi sekali pergi jual koran sebelum sekolah dan pulang ketika bumi kembali menghitam.
Hanya We yang ia kenal. Ia bercerita tentang masa lalunya pada pria itu. Atas usul We, Ko akhirnya menetap bersama We dan istri We yang sudah renta. Rumah We tidak lebih baik dari Rumah Ko. Namun, sedihnya sedikit terobati dengan kehadiran We dan istrinya.
“Kau punya anak, We?”
Yang ditanya menggeleng. “Maukah kau jadi anakku?”
Pertanyaan itu Ko ladeni dengan senyuman.
We melihat senyum itu. “Tentu saja sulit menerima permintaan itu. Karena tawaan itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi masa depanmu.” Keduanya bertatapan. Seulang senyum menghias pada wajah mereka.
***
Siang itu begitu terik. Ko menjual koran tanpa We. We membawa istrinya berobat.
Di bawah jembatan Ko merenungi jalan hidupnya. Ia tidak tahu dimana keberadaan ayah dan ibunya. Ia hidup sebatang kara dengan sebuah rumah yang ditinggalkan. Entah bagaimanakah jalan hidupnya di masa depan. Bingung. Takut. Bimbang. Menyergap di hatinya. Harapannya saat ini hanya satu. Hidup bersama ibunya.
Seseorang menarik kerah baju Ko. Kemudian mengangkat anak itu dengan kedua tangannya.
”Berikan uangmu!”
Ko ketakutan. Monster telah menyita perasaanya. Monster itu adalah ayahnya sendiri. Ko menggeleng. Lelaki itu menghempaskan tubuh Ko ke lantai trotoar. Ko meringis kesakitan. Ko menggenggam dompet plastik yang ada di dalam saku celananya. Ia tidak ingin lelaki itu merebut hasil pekerjaannya. Ia ingin mengumpulkan uang untuk menemui ibunya.
Lelaki itu gesit melihat arah gerak tangan Ko. Dengan cepat ia menyentakkan tangan ko dengan paksa keluar dari saku itu. Celana Ko robek. Tangan Ko tergeletak ke tanah. Dompet plastiknya terlempar. Lelaki itu segera memburu dompet itu. Merogoh isinya. Menghempaskan dompet plastik kosong ke wajah ko. Lalu, lelaki itupun pergi dengan uang penjualan koran ko.
Suasana pikuk. Tapi, tak seorang pun menolong ko. Ia tertatih memapah badannya untuk berdiri. Butir bening di matanya mengalir. Ia menatap punggung lelaki tua itu yang penuh kemenangan.
Lampu merah kembali menyala. Tapi ko tidak lagi berselera untuk menjajakan sisa koran di tangannya.
***
Rumah We sepi. Tidak ia dapati seorang pun di dalam. Mungkin We belum pulang dari mengantar istrinya berobat. Ko menuju kamar darurat yang dibuatkan We untuknya. Kamar itu di dekat dapur. Ko merogoh ke bawah kasur busa tipis. Di sana ia menyimpan uang hasil penjualan korannya selama ini.
Dua ratus tiga puluh ribu rupiah. Jika seandainya ia berhasil meloloskan uang tadi dari ayahnya maka sejumlah uang yang ada di tangannya pasti telah bertambah. Ia menyesal.
”apa yang sedang kau lakukan anak muda?”
Suara We mengejutkan Ko. Ko hanya mengangkat tangannya. ”Aku menghitung uang yang diperlukan untuk pulang ke Jawa.”
”Sudah berapa yang kau kumpulkan?”
”Dua ratus tiga puluh ribu. Aku tahu itu belum cukup untuk mengantarkanku ke Jawa. Sepertinya aku harus menunda keberangkatanku,” jawab Ko lemas.
”Apakah tekadmu kuat untuk menemui ibumu?”
Anggukan mantap yang diberikan Ko.
”Lantas, kau tahu dimana ibumu berada? Jawa itu sungguh luas. Apakah kau tahu jalan menemui ibumu? Kau pernah ke jawa sebelumnya?”
Anggukan ko yang tadinya mantap kini hanya tatapan hampa. Ia bahkan belum pernah ke Jawa. Tidak pula tahu jalan ke sana.
”tapi aku yakin aku pasti dapat menjumpai ibuku. Hati kami yang akan membawaku ke tempatnya,” jawaban Ko mantap.
”Baiklah, aku hanya ada ini untuk menambah kekurangan dan bekalmu di jalan. Semoga akan membantu,”
”Jangan We, istrimu lebih membutuhkan,” Ko menolak halus.
“Ia telah pasrah.”
”Kapan kau akan berangkat?”
”Sebelum lebaran aku harus bertemu ibuku,” tekad Ko.
”Besok ku antar kau untuk membeli tiket.”
***
Bus tujuan Sumatera-Jawa telah berada tepat di depan Ko dan We. Ada perasaan yang hanya diketahui mereka berdua.
”We aku akan merindukanmu.”
”Sampaikan salam aku dan istriku kepada ibumu.”
Keduanya berpelukan erat. Kemudian Ko masuk ke dalam bus. Mengambil tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Ini merupakan perjalanan pertamanya.
We, terima kasih. Aku berjanji aku akan kembali untukmu....
**Peserta Ramadan Nyastra UKMI Arroyyan
Mahasiswi Pendidikan FKIP Universitas Riau
**Yes, akhirnya menang sebagai juara satu di RANSTRA ARROYYAN
Meski baru tingkat KAMPUS UNIVERSITAS RIAU, 16 peserta....
Moga jadi awal yang baik....
Silviana Hendri*
Sekolah baru saja usai. Ko, berlari ke luar gerbang sekolah. Kencang sekali. Tak ada siapaun yang ditunggunya. Tidak seperti siswa lain yang menunggu jemputan pulang orang tuanya.
Ia terus berlari hingga berhenti sejenak untuk meyebrang jalan. Di seberang sana ada sebuah pohon besar. Di dekat taman. Ko melepaskan tas yang sedari tadi menempel di punggungnya. Mengeluarkan baju kaos kumal. Kemudian melepaskan seragam sekolahnya dan berganti dengan kaos kumal itu. Ia masukkan kembali baju seragamnya. Kemudian kembali berlari menuju agen penjualan koran.
Hari menunjukkan kegarangannya. di persimpangan jalan, ko telah membentuk sebuah komunitas dengan para penjual koran lainnya. Lampu merah menyala. Ko dan teman-temannya mulai beraksi.
”Koran... koran....,” teriaknya di bawah sengatan matahari. Menghampiri setiap pengguna jalan raya.
***
Malam yang pekat.
Ko tinggal bertiga dengan ibu dan adiknya. Ayahnya belum pulang sejak sore kemarin. Entah kemana. Ibu ko pun tidak tahu keberadaan suaminya.
Suasana di luar penuh gemuruh lompatan petir. Kilatnya tampak jelas dari balik dinding kayu rumah Ko. Hujan mengguyur bumi bagai membalas dendam. Seketika jalanan banjir. Inilah ganjaran untuk manusia yang menebang pohon sewenang-wenang. Riuh sautan katak menambah ramai suasana malam.
Ko dan ibunya masih menunggu kepulangan ayah. Sementara adik ko sedari tadi telah lelap dalam pangkuan ibu.
”Dimana ayah, Bu?” Ko memecahkan keheningan yang tercipta diantara mereka.
Lamunan ibu ke luar rumah seketika buyar akibat pertanyaan Ko. Tetapi, bibir ibu tetap terkunci. Hanya sorot mata hampa yang menjadi jawaban pertanyaan itu.
Ko lebih mendekat kepada ibunya. Merangkul ibunya dan mencari kehangatan.
***
Seorang pria baya menikmati kesyahduannya di teleju. Di sebuah bilik sempit dengan pendar lampu remang-remang. Ia tengah bersama seorang wanita penghuni teleju itu. Sebelumnya ia telah menghabiskan tiga botol wiski. Berfoya dengan teman-temannya dalam llingkaran judi.
Lelaki itu dengan segurat masalah yang terlukis di keningnya berupaya menutup-nutupi dengan ketawa membahana. Malam ini ia tengah menang. Ia bisa menghabiskan uang itu untuk apa saja. Bahkan ia yang mentraktir para konco-konco yang berada dalam lingkaran itu sampai mabuk. Ia hanya mengaharapkan kesenangan.
***
Ko, berniat untuk menghabiskan semua koran yang ada di tangannya. Ia berpindah dari pengendara satu ke pengenadara lainnya. Meski sengatan matahari telah membakar kulitnya dan menambahkan rasa haus di tenggorokkannya, korannya harus habis terjual.
Lampu hijau kembali menyala. Ko dan komunitasnya menjauh dari badan jalan. Menuju suatu tempat teduh di bawah jembatan penyebrangan. Ia tersenyum melihat pemandangan di sekitarnya. Teman-teman komunitasnya dengan santai menuangkan minuman segar dalam mulut mereka. Padahal hari ini masih dalam bulan puasa. Terkadang hati ko mulai goyah. Ia menghitung uang yang telah ia kumpulkan. Lalu tersenyum. ’aku harus mengumpulkannya untuk menyusul ibu.” ia kemas kembali uang dalam dompet plastiknya.
”Kau mau?” seseorang menyodorkan segelas air mineral kepada Ko.
Ko menatap orang itu. Kemudian menggeleng.
”Ambillah. Kau pasti haus,” paksa lelaki tua yang kepalanya telah dipenuhi uban.
”Aku puasa,” ujar Ko. Meski sedikit menyesal menolak pemberian orang tua itu, tapi Ko harus kokoh dengan pesan ibunya.
”Hebat! Meski kecil imanmu cukup juga untuk diadu.”
Ko tersenyum.
”Entah kapan aku ikut puasa terakhir kalinya,” laki-laki itu mulai cerita. Ia menyeruput minuman ke tenggorokkannya. ”Dulu, aku rajin shalat juga puasa. Tapi, ah, sekarang aku bahkan lupa cara melakukannya.”
Ko kembali tersenyum.
”Siapa namamu? Sepertinya kau orang baru,” tanya laki-laki tua itu.
”Panggil saja aku Ko”
”Masih sekolah?” tanya laki-laki itu melirik pakaian bawah Ko.
Ko hanya mengangguk.
”Lantas bagaimana ceritanya kau menjadi loper koran?”
”Aku ingin mengumpulkan uang untuk menyusul ibuku. Ia pergi diusir ayah.”
”Lalu ayahmu?”
Ko menebarkan senyum miris. ”Ia mengahbiskan waktu di meja judi.”
”Oy, namaku We. Cukup panggil aku We saja. Jika kau memerlukan bantuan, boleh datang kepadaku. Aku akan membantu semampuku.”
“Terimakasih.”
Lampu merah kembali menyala. Aktivitas para penjual Koran menyebar ke setiap pengguna jalan.
***
Hujan kian deras. Menyajikan suasana lebih mencekam seiring dengan turunnya malam yang sempurna. Petir sambut-menyambut di luar sana. Katak semakin gencar dengan kegirangannya menyambut hujan.
Ko dan Ibu tersentak dengan bantingan pintu dari luar rumah. Begitu kuat dan begitu cepat. Setelah meletakkan adik ko ke atas dipan beralaskan tikar, ibu mengajak Ko untuk membuka pintu.
Kilat menyambar. Bumi merekah. Duarrrrr. Sesosok bayangan tengah berdiri gontai di depan pintu. Ia limbung. Ko dan ibunya memapah lelaki itu. Ada aroma menyengat yang tidak mengenakkan tercium oleh hidung ko. Ia mual. Lelaki itu berat sekali. Ko dan ibunya hampir jatuh memapah lelaki setengah sadar itu.
Seperti hari-hari biasa. Ko berangkat ke sekolah pagi-pagi setelah sarapan dengan masakan buatan ibunya. Hari ini hari terakhir sekolah. Esok hingga tiga hari berikutnya sekolah diliburkan karena menyambut bulan puasa.
Hanya gotong royong. Ko pulang lebih awal dari biasanya. Ia menerobos rumah setelah mengucapkan salam. Tapi, tidak ada satu suara pun yang menjawab. Ia berpikir ibu dan adiknya tengah tidur. Ayahnya jarang di rumah, ia tidak perlu memikirkan ayahnya.
Ko menggeleda ruang depan dan ruang dapur. Ia sapu bersih denagn penglihatannya. Tak ia dapati satu pun manusia. Tidak adik dan ibunya. Ko panik. Ia langsung berlari ke tuang depan lagi. Menatap apapun yang mungkin menjadi isyarat atau jawaban atas kejadian ini. Selembar kertas. Itu tulisan ibunya.
Ibu terpaksa pergi. Ke rumah nenekmu di Jawa. Maaf tidak membawamu, Nak. Suatu saat kita pasti akan bertemu. Rajin-rajinlah sembahyang. Jangan kau tinggalkan perintah yang Kuasa. Senantiasa berdoa agar kita dipertemukan oleh-Nya. Puasa ini kau harus penuh.
Pesan ibu jangan kau benci ayahmu. Tetaplah jadi anak baik. Jaga diri baik-baik sayang.
Peluk cium
Ibu
Dunia serasa hampa bagi Ko. Ia seperti tidak memiliki tujuan hidup.
***
Sejak kejadian hari itu, Ko tinggal sendiri di rumah. Ayahnya tidak pernah lagi pulang ke rumah. Rumah selalu sepi karena Ko pagi-pagi sekali pergi jual koran sebelum sekolah dan pulang ketika bumi kembali menghitam.
Hanya We yang ia kenal. Ia bercerita tentang masa lalunya pada pria itu. Atas usul We, Ko akhirnya menetap bersama We dan istri We yang sudah renta. Rumah We tidak lebih baik dari Rumah Ko. Namun, sedihnya sedikit terobati dengan kehadiran We dan istrinya.
“Kau punya anak, We?”
Yang ditanya menggeleng. “Maukah kau jadi anakku?”
Pertanyaan itu Ko ladeni dengan senyuman.
We melihat senyum itu. “Tentu saja sulit menerima permintaan itu. Karena tawaan itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi masa depanmu.” Keduanya bertatapan. Seulang senyum menghias pada wajah mereka.
***
Siang itu begitu terik. Ko menjual koran tanpa We. We membawa istrinya berobat.
Di bawah jembatan Ko merenungi jalan hidupnya. Ia tidak tahu dimana keberadaan ayah dan ibunya. Ia hidup sebatang kara dengan sebuah rumah yang ditinggalkan. Entah bagaimanakah jalan hidupnya di masa depan. Bingung. Takut. Bimbang. Menyergap di hatinya. Harapannya saat ini hanya satu. Hidup bersama ibunya.
Seseorang menarik kerah baju Ko. Kemudian mengangkat anak itu dengan kedua tangannya.
”Berikan uangmu!”
Ko ketakutan. Monster telah menyita perasaanya. Monster itu adalah ayahnya sendiri. Ko menggeleng. Lelaki itu menghempaskan tubuh Ko ke lantai trotoar. Ko meringis kesakitan. Ko menggenggam dompet plastik yang ada di dalam saku celananya. Ia tidak ingin lelaki itu merebut hasil pekerjaannya. Ia ingin mengumpulkan uang untuk menemui ibunya.
Lelaki itu gesit melihat arah gerak tangan Ko. Dengan cepat ia menyentakkan tangan ko dengan paksa keluar dari saku itu. Celana Ko robek. Tangan Ko tergeletak ke tanah. Dompet plastiknya terlempar. Lelaki itu segera memburu dompet itu. Merogoh isinya. Menghempaskan dompet plastik kosong ke wajah ko. Lalu, lelaki itupun pergi dengan uang penjualan koran ko.
Suasana pikuk. Tapi, tak seorang pun menolong ko. Ia tertatih memapah badannya untuk berdiri. Butir bening di matanya mengalir. Ia menatap punggung lelaki tua itu yang penuh kemenangan.
Lampu merah kembali menyala. Tapi ko tidak lagi berselera untuk menjajakan sisa koran di tangannya.
***
Rumah We sepi. Tidak ia dapati seorang pun di dalam. Mungkin We belum pulang dari mengantar istrinya berobat. Ko menuju kamar darurat yang dibuatkan We untuknya. Kamar itu di dekat dapur. Ko merogoh ke bawah kasur busa tipis. Di sana ia menyimpan uang hasil penjualan korannya selama ini.
Dua ratus tiga puluh ribu rupiah. Jika seandainya ia berhasil meloloskan uang tadi dari ayahnya maka sejumlah uang yang ada di tangannya pasti telah bertambah. Ia menyesal.
”apa yang sedang kau lakukan anak muda?”
Suara We mengejutkan Ko. Ko hanya mengangkat tangannya. ”Aku menghitung uang yang diperlukan untuk pulang ke Jawa.”
”Sudah berapa yang kau kumpulkan?”
”Dua ratus tiga puluh ribu. Aku tahu itu belum cukup untuk mengantarkanku ke Jawa. Sepertinya aku harus menunda keberangkatanku,” jawab Ko lemas.
”Apakah tekadmu kuat untuk menemui ibumu?”
Anggukan mantap yang diberikan Ko.
”Lantas, kau tahu dimana ibumu berada? Jawa itu sungguh luas. Apakah kau tahu jalan menemui ibumu? Kau pernah ke jawa sebelumnya?”
Anggukan ko yang tadinya mantap kini hanya tatapan hampa. Ia bahkan belum pernah ke Jawa. Tidak pula tahu jalan ke sana.
”tapi aku yakin aku pasti dapat menjumpai ibuku. Hati kami yang akan membawaku ke tempatnya,” jawaban Ko mantap.
”Baiklah, aku hanya ada ini untuk menambah kekurangan dan bekalmu di jalan. Semoga akan membantu,”
”Jangan We, istrimu lebih membutuhkan,” Ko menolak halus.
“Ia telah pasrah.”
”Kapan kau akan berangkat?”
”Sebelum lebaran aku harus bertemu ibuku,” tekad Ko.
”Besok ku antar kau untuk membeli tiket.”
***
Bus tujuan Sumatera-Jawa telah berada tepat di depan Ko dan We. Ada perasaan yang hanya diketahui mereka berdua.
”We aku akan merindukanmu.”
”Sampaikan salam aku dan istriku kepada ibumu.”
Keduanya berpelukan erat. Kemudian Ko masuk ke dalam bus. Mengambil tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Ini merupakan perjalanan pertamanya.
We, terima kasih. Aku berjanji aku akan kembali untukmu....
**Peserta Ramadan Nyastra UKMI Arroyyan
Mahasiswi Pendidikan FKIP Universitas Riau
**Yes, akhirnya menang sebagai juara satu di RANSTRA ARROYYAN
Meski baru tingkat KAMPUS UNIVERSITAS RIAU, 16 peserta....
Moga jadi awal yang baik....
Langganan:
Postingan (Atom)