Selasa, 08 September 2009

Paris Lumiere de l’ Amour : Merajut Cinta di Negeri Cahaya

Paris Lumiere de l’ Amour : Merajut Cinta di Negeri Cahaya

Oleh

Silviana Hendri*

Seru membaca karya dari Rosita Sihombing dalam Paris Lumeiere de l’ Amour. Ternyata menjadi seorang Full Time Mother (FTM) juga seorang muslim di kota yang penduduk muslimnya minoritas ada enaknya ada dukanya. Eda Rosita mampu menyajikan kehidupan di Paris dalam bahasa tulisan yang mudah dicerna. Eda Ita dalam tulisannya seolah-olah mengajak kita (pembaca-peny.) untuk menikmati dan turut serta dalam kejutan-kejutan yang dialaminya.

Para WNI di Paris Menebus Rindu di KBRI (hal 3). Saat-saat yang menyenangkan dapat bertemu dengan ‘orang sekampung’ dalam event nasional. Memupuk rasa nasionalisme. Ibarat kata orang tua, ‘seenak-enaknya tinggal di rumah orang, lebih enak tinggal di rumah sendiri’. Kehidupan di Paris juga menyiratkan kerut di kening. Di kota yang minoritas muslim, susah untuk mendapat produk makanan halal. Dalam tulisannya yang lain…..Belanja Halal, Yuuk…!(hal 121) sebelumnya dimulai dari Daging Babi di Sana, Daging Babi di Sini (hal 117). Namun, pada tulisan sebelumnya Eda Ita memberikan sebuah solusi ada China Town, Surga Belanja Orang Asia (hal 31).

Tulisan yang paling menarik bagi saya di bab 3 Aktivitas-Aktivitas Seru. Paris juga memperingati hari raya kemerdekaan layaknya Indonesia. Tanggal 14 Juli menikmati pesta kembang api juga ada parade militer. Tapi, Eda Ita bedanya peringatan kemerdekaan di Paris tidak ada lomba-lomba rakyat seperti panjat pinang, makan kerupuk atau balap karung..hehe. Stok kembang api di Paris sudah habis pada tanggal 14 Juli. (Temukan dalam Asyiknya 14 Juli hal 61). Meski negara tropis, di Paris jarang terdapat salju. (lihat Menanti Salju hal 71).

Dalam bab akhir, Saat Muslim Bukan Mayoritas, rasanya Eda Ita ingin curhat dengan para pembaca tentang kehidupan muslim di luar negeri yang masyarakatnya mayoritas non muslim. Saat ke-Istiqomah-an (hal 103) jadi taruhan. Seorang muslim harus berani beda, menunjukkan identitasnya sebagai umat terbaik.

Keimanan Eda Ita dan Mr. Pat benar-benar diuji. Apalagi di ibukota Perancis, kota pesta. Salut untuk keluarga Ita Sikrit yang berani berkata Alkohol? Non, Merci! (hal 109). Bela-belain menuangkan jus ataupun air mineral dalam gelas untuk menghormati mereka dan ikut melakukan tchin-tchin. Belum lagi yang memiliki nama berbau Arab (Muslim) akan mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Lihat Nama Arab di CV? Nanti Dulu…! (hal 129).

Rasulullah pernah melarang uamtnya untuk berdebat dalam urusa agama. Lantas jika seseorang mengajak untuk berdiskusi tentang agama? Layani saja, semoga ia dapat hidayah…. Seperti yang dilakukan oleh Ita dalam Susahnya Diskusi Islam dengan Orang Atheis (hal 133). Satu hal yang membuat salut dalam tulisan Ita, yaitu suaminya, Mr. Patrik. Meski seorang mualaf, keinginannya mendalami islam begitu kuat. Ikuti perjalanan mualaf ini dalam Godaan Puasa Syawal Pat (hal 147), Perjuangan Menunaikan Shalat (hal 155), Tahajjud di Hari Pernikahan (hal 161), Isya 12.00 A.M. (hal 165), Kursus Bahasa Arabnya Pat (hal 167).

Perjalanan cinta Rosita di negeri Paris dikemas dalam bahasa santai, renyah, tapi tidak mengikis isi dari apa yang ingin disampaikan.

Meskipun tulisan ini telah mampu menyihir pembaca seolah berada di Paris, alangkah bagus lagi jika ditambahkan peta kota Paris dan denah tempat penting. Sehingga sebagai pembaca yang belum pernah ke Paris dan memiliki cita-cita ke sana memiliki sedikit gambaran tentang kota tersebut. Rekomendasi dari saya sebagi pembaca agar dalam buku ini juga ditambahkan beberapa nomor penting di kota Paris.

Dalam buku ini, ada percakapan sesama WNI yang berdomisili di luar negeri. Tapi, teman-teman tersebut tidak mengambil andil peran besar dalam buku ini. Jikalau Eda Ita mengisahkan bagaimana pertemuan dan perkenalan dengan WNI lain yang berada dalam Negara yang berbeda, pasti akan lebih seru! Satu lagi, saya sebagai pembaca ingin mengetahui bagaimana perjalanan cinta Rosita dan Patric, sang suami. Pasti akan lebih seru lagi dikemas dalam satu buku.. Ditunggu cerita selanjutnya.

*Kader Forum Lingkar Pena Riau

Tidak ada komentar:

Posting Komentar